Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI, SMP Kristen Anak Panah Nabire Gelar Upacara Bendera

Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI, SMP Kristen Anak Panah Nabire Gelar Upacara Bendera

Nabire, 17 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMP Kristen Anak Panah Nabire melaksanakan upacara bendera dengan penuh khidmat pada Senin, 17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP Kristen Anak Panah Nabire bersama Dewan Guru dan Tenaga Kependidikan.

Upacara berlangsung dengan tertib dan penuh semangat kebangsaan. Seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian upacara sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus ungkapan syukur atas kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi bangsa Indonesia.

Bertindak sebagai Pembina Upacara, Sekretaris Departemen Pendidikan Yayasan PESAT Nabire, Bapak Galuh Pria Utama, S.Th., M.Th. Sementara itu, Pemimpin Upacara dipercayakan kepada Bapak Ma’ardin Zalukhu.

Dalam pelaksanaan upacara, Ibu Adolfina Andatu bertugas membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Petugas pengibaran bendera dipercayakan kepada Ibu Christina Saija, Bapak Yohanes Palar, dan Ibu Elisabeth Nanik Setyorini.

Rangkaian upacara juga dilengkapi dengan Ibu Yosefina Tokan sebagai dirigen, Ibu Windiyant Tundu sebagai pembawa acara, dan Ibu Yosina Burame yang memimpin doa. Sementara itu, Bapak Isak Imanuel Mandowen bertugas membawa teks Pancasila dan teks Proklamasi.

Dalam amanatnya, Bapak Galuh Pria Utama, S.Th., M.Th. membacakan cerita untuk memotivasi peserta khususnya para siswa, tentang “CERITA ILUSTRASI  BUKU YANG TIDAK JADI DIBAKAR”

Ada seorang anak Papua.

Namanya Yonas.

Yonas adalah seorang anak SMP.

Ia bukan anak yang paling pintar di kelas.

Nilai matematikanya biasa saja.

Bahasa Inggrisnya juga belum terlalu bagus.

Tetapi Yonas mempunyai satu hal:

Ia mempunyai mimpi.

Ia ingin suatu hari nanti menjadi orang yang berguna bagi kampungnya.

Ia ingin melihat Papua maju.

Ia ingin orang-orang di kampungnya hidup lebih baik.

Tetapi kehidupan Yonas tidak selalu mudah.

Di rumah, ia sering mendengar pembicaraan orang dewasa tentang masalah Papua.

Tentang ketidakadilan.

Tentang konflik.

Tentang perjuangan.

Tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Di sekolah, ia juga mendengar berbagai cerita dari teman-temannya.

Di media sosial, ia melihat video-video yang membuatnya marah.

Semakin lama, Yonas mulai berpikir:

“Untuk apa saya sekolah?”

“Apakah sekolah bisa mengubah Papua?”

Suatu sore, Yonas pulang dari sekolah.

Ia masuk ke kamarnya.

Ia melihat buku-bukunya.

Buku matematika.

Buku Bahasa Indonesia.

Buku IPA.

Buku IPS.

Kemudian ia mengambil salah satu bukunya.

Ia berkata:

“Untuk apa semua ini?”

Ia mulai marah.

Ia merasa bahwa belajar tidak ada gunanya.

Ia bahkan hampir membakar buku-bukunya.

Tetapi sebelum buku itu dibakar…

gurunya datang.

Guru itu melihat Yonas.

Kemudian gurunya bertanya:

“Yonas, kamu mau membakar apa?”

Yonas menjawab:

“Buku, Pak.”

Gurunya bertanya lagi:

“Mengapa?”

Yonas menjawab:

“Karena saya merasa sekolah tidak akan mengubah apa-apa.”

Gurunya diam sebentar.

Kemudian berkata:

“Yonas, kalau kamu ingin mengubah Papua, jangan bakar bukumu.”

Yonas terdiam.

Guru itu melanjutkan:

“Bacalah.”

“Belajarlah.”

“Pahamilah dunia.”

“Belajarlah berpikir.”

“Karena Papua tidak hanya membutuhkan orang yang berani.”

Papua membutuhkan orang yang berani dan berpendidikan.

Papua membutuhkan guru.

Dokter.

Insinyur.

Pengusaha.

Petani yang mampu menggunakan teknologi.

Pemimpin yang jujur.

Orang-orang yang mampu membangun.

Kemudian gurunya berkata:

“Kalau kamu membakar bukumu hari ini, mungkin kamu sedang membakar salah satu jalan menuju masa depanmu.”

Yonas diam.

Ia melihat buku di tangannya.

Kemudian perlahan…

ia menurunkannya.

Buku itu tidak jadi dibakar.mengajak seluruh peserta upacara untuk memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk terus bertumbuh dan memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Beliau menekankan bahwa di era kemerdekaan saat ini, generasi muda memiliki kesempatan untuk merdeka dalam berpikir secara kritis dan merdeka dalam belajar. Kemerdekaan tersebut hendaknya digunakan untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kualitas belajar, serta menjadi pribadi yang terus berusaha menjadi lebih baik.

“Di era kemerdekaan saat ini, kita harus mampu merdeka berpikir kritis dan merdeka belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa perjuangan di masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui pendidikan, kerja keras, karakter yang baik, kemampuan berpikir kritis, serta semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Selain bertugas sebagai petugas upacara, para Guru dan Tenaga Kependidikan SMP Kristen Anak Panah Nabire juga turut mengambil bagian sebagai pasukan paduan suara yang mengiringi rangkaian upacara. Kehadiran mereka menambah semarak sekaligus kekhidmatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seluruh siswa SMP Kristen Anak Panah Nabire menjadi peserta upacara dengan mengenakan pakaian dan mengikuti kegiatan dengan penuh disiplin serta antusiasme. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, menghargai jasa para pahlawan, serta membangun kesadaran bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SMP Kristen Anak Panah Nabire menjadi momentum untuk kembali meneguhkan semangat bersama: terus belajar, berpikir kritis, berkarakter, dan menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!

Terus Melaju, Terus Berkarya, dan Terus Menjadi Terang bagi Sesama.

SMP Kristen Anak Panah Nabire

Let Your Light Shine

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top